Guru
Wiyata Bhakti atau dikenal dengan GTT(Guru Tolah Toleh) nasibnya sungguh
memprihatinkan. Betapa tidak, bayangkan saja mereka benar-benar sedang diuji
dengan penghasilan yang sangat minim atau bisa dikatakan jauh terpaut dengan
buruh pabrik sekalipun, mereka masih tetap mengabdi demi anak-anak didiknya.
Kata teman saya”Guru Wiyata bhakti adalah Guru bergaji seminggu” gaji atau
honor sebulan hanya bisa digunakan untuk seminggu.
 |
Guru Wiyata Bhakti |
Di
saat Gembar-gembor adanya sertifikasi, adanya tunjangan non-sertifikasi, ironis
guru wiyata bhakti tiada dipedulikan pemerintah. Secara pribadi saya sangat
tidak setuju dengan adanya sertifikasi. Kenapa pemerintah menghabiskan anggaran
negara untuk sertifikasi guru yang notabene kebanyakan mereka sudah PNS. Dan anehnya
lagi bagi guru yang tidak mendapat tunjangan sertifikasi, mereka yang PNS
mendapatkan tunjangan non-sertifikasi. Sedangkan apa yang terjadi dengan WB
atau Guru pengabdian? Ya dipandang sebelah mata. Menurut saya anggaran
sertifikasi hanya akan memperlebar jurang pemisah artinya kesejahteraan guru
wiyata bhakti umumnya dengan guru PNS semakin terpaut jauh. Bagai Bumi dan
langit. Dana Sertifikasi jika dialokasikan untuk membantu guru wiyata bhakti
justru akan terasa manfaatnya. Katakanlah tidak usah seratus persen, beberapa
persen saja sudah dapat mengasini air tawar. PNS bisa diperibahasakan seperti
air laut yang sudah asin. Mengapa air laut yang sudah asin ditaburi garam? Ya yang
jelas tidak berpengaruh. Coba kalau kita taburkan ke air tawar yang diumpamakan
adalah guru pengabdian sungguh akan berasa dan bermanfaat bagi mereka.
Dengan
tanggung jawab yang sama dengan guru PNS, Guru wiyata bhakti harus mencurahkan
pengabdiannya kepada sekolah dan anak didik mereka, kepada Negara, Guru Wiyata
bhakti memiliki kewajiban yang sama dengan PNS namun hak yang mereka peroleh
tidak sebanding dan sangat amat jauh sekali dengan guru PNS. Sebenarnya apa
yang ada di benak pemerintah, di benak PGRI, kenapa sampai sekarang tiada
memperjuangkan nasib mereka para guru pengabdian?Apakah mereka buta, tuli, atau
memang benar-benar tidak memperdulikan nasib mereka?PGRI selama ini hanya
memperjuangkan guru PNS yang notabene sudah memiliki kesejahteraan. Jika berbicara
guru Pengabdian PGRI diam seribu bahasa. Mana tunjangan yang katanya mau di UMR
kan? Itu semua hanya sebagai angin lalu saja. Tidak ada wujud tindakan nyata
untuk mengupayakan kesejahteraan Para GTT.
Di
dalam zaman kemerdekaan seperti sekarang ini guru wiyata bhakti masih belum
mendapatkan kemerdekaannya. Layaknya hanya menjadi sapi perah yang hanya
dihisab susunya. Diforsir bekerja layaknya Guru PNS. Namun giliran berbicara masalah kesejahteraan
tiada mendapat tempat. Beginilah Indonesiaku kami guru-guru pengabdian layaknya
menjadi kaum tertindas, kaum yang dijajah di negeri sendiri tiada dihargai.
Ironis memang gaji guru wiyata bhakti tidak lebih baik daripada buruh. Mereka
para buruh minimal bergai UMR namun apa yang terjadi dengan Wiyata Bhakti,
sangat jauh dari UMR.